Di kalangan guru – guru, perubahan pola perilaku anak – anak siswa memang hangat dibahas. Karena mungkin sudah terbiasa dengan satu generasi tertentu, ketika melihat perubahan generasi kekinian, yang dikenal dengan generasi milennials, kadang bisa membuat geleng – geleng kepala menghadapinya.

Mulai dari pola pikir kritisnya, etikanya, perilakunya, kadang kita sebagai guru berpikir, “kok anak – anak sekarang begini yaa?”

Sebagai guru muda (beneran, saya masih muda… haha…), saya dihadapkan pada siswa yang untungnya tidak berbeda jauh dengan saya. Kalau dibilang, angkatan saya lahir itu generasi Y. Masih generasi transisi antara generasi internet dengan generasi yang masih serba analog. Makanya kalau dulu masih sempat tuh main yang namanya petak umpet, bentengan, kelereng alias gundu, atau congklak. Kalau anak sekarang, kayanya sih ga kenal dengan mainan seperti itu.

Generasi milennials, tergantung sumbernya adalah generasi yang pada intinya adalah generasi yang lahir di zaman teknologi dan informasi. Mudahnya, umumnya lahir di atas tahun 1995. Generasi ini adalah generasi yang berlimpah secara informasi, dan harusnya lebih berwawasan dan kaya akan data karena mencarinya mudah.

Karena ‘gawatnya’ perubahan yang dihasilkan oleh generasi ini, peneliti dari Dalton State College, Christy Price, EdD mencoba untuk memetakan seperti apa karakteristik pembelajar dari generasi milennials. Penelitian ini diperkuat oleh Price, yang mencoba melakukan analisis kualitatif dari ratusan pembelajar generasi milennials untuk menemukan karakeristik umumnya.

Berdasarkan hasil penelitiannya, ditemukanlah ada 5 teknik untuk membuat pengajar atau guru lebih berhasil dalam memberikan pelajaran kepada generasi milennials. Beberapa sudah saya coba, beberapa lainnya masih dalam proses karena susah. Hehe..

Berikut adalah caranya,

  • Research – Based Methods: Satu hal yang pasti, teknik lecture konvensional sudah sulit menarik minat milennials. Sebagai generasi multimedia, mereka lebih suka diberikan multimedia, kesempatan kolaborasi, dan kemampuan mencari serta merangkum informasi sendiri. Di sinilah kemudian tugas guru lebih ke arah menjadi fasilitator untuk ‘meluruskan’ jika ada sesuatu yang salah dipahami siswa untuk mencegah terjadinya sesat pikir.

Di mata pelajaran pemodelan system, saya pernah mencoba untuk memberikan ‘tantangan’ kepada siswa untuk memecahkan masalah di sebuah bisnis dengan membuat model sistem yang kompleks. Caranya saya biarkan mereka melakukan eksplorasi, namun jika mereka stuck, mereka bisa bertanya kepada saya.

Hasilnya, ternyata hasil penelitian mereka sangat bagus dan bahkan diterima untuk dipresentasikan di sebuah konferensi internasional. Sebagai contoh, hasil penelitian siswa yang berjudul Optimizing The Distribution System of Fast Moving Consumer Goods Company Using Sweeping Methods with Discrete Event Simulation Approach dipresentasikan dalam 6th International Conference on Transportation and Traffic Engineering pada Bulan Juli lalu.

Hanya saja tantangannya, memberikan kebebasan kepada siswa untuk riset bukan berarti melepas. Di sinilah letak peran guru, yaitu sebagai pemberi klarifikasi dan mencegah siswa untuk tidak sesat pikir atau salah logika dalam mengambil sebuah kesimpulan dari proses belajar.

  • Relevance: Generasi Milennials adalah generasi yang menghargai sebuah informasi karena ‘relevan’ dengan kehidupan mereka. Maka di sini peran guru adalah ‘menyortir’ materi – materi yang ada di buku, mana yang relevan dan akan banyak digunakan dalam kehidupan siswa dan mana yang tidak. Sudah bukan zamannya lagi seorang guru ‘menyuapi’ seluruh materi yang ada di buku, tanpa siswa tahu apa manfaatnya untuk mereka.

Hal – hal praktis yang saya lakukan untuk dapat terus membuat materi relevan adalah menghubungkan konsep materi dengan kasus – kasus terkini yang relevan. Misalnya ketika saya mengajar pengantar ilmu ekonomi, saya memicu mereka dengan pertanyaan, “apa sih makna dari “made in Indonesia” atau “made in China”?” Pertanyaan itu adalah pembuka kesadaran mengapa mereka perlu belajar tentang international trade, atau perdagangan internasional. Mereka pun menjadi mudah ingat konsepnya karena “Made in China” itu hampir selalu melekat pada setiap barang yang dimiliki siswa. Termasuk kita juga, guru – gurunya. Hehe..

  • Rationale: Tidak seperti generasi sebelumnya yang dididik dengan pola otoriter, para generasi milenial ini banyak yang dibesarkan dengan pola – pola demokratis oleh orang tua atau lingkungan mereka. Sehingga, generasi milenial ini akan cenderung respek kalau tugas atau kebijakan yang diterapkan rasional.

Saya mendapati hal ini ada benarnya, ketika banyak siswa saya yang mengeluhkan ada guru yang memberikan tugas yang kurang make sense. Misalnya adalah menerjemahkan buku teks. Hal yang mereka tanyakan adalah : apa esensinya menerjemahkan buku teks? Beberapa dari mereka masih bisa menerima jika merangkum, tapi kalau menerjemahkan itu tidak rasional.

Nah, sebenarnya hal – hal seperti ini dapat dihindari apabila kita sebagai guru memberitahukan apa esensi atau rasionalitas dalam memberikan tugas atau menerapkan kebijakan kelas. Pengalaman saya memberikan tugas kepada siswa, selalu saya berikan pemahaman terkait manfaatnya untuk mereka dan akhirnya banyak dari mereka yang respek karena tugas dan hal yang dilakukan di kelas itu rasional.

  • Relaxed: Berdasarkan hasil penelitian, milenial lebih senang berinteraksi dalam kondisi belajar yang kurang formal atau lebih santai. Makanya dalam beberapa kasus, saya biasa saja kalau dipanggil ‘Kak’ atau ‘Mas’. Untuk beberapa guru lain, mungkin itu menjadi sebuah masalah. Tapi buat saya, selama membuat mereka rileks dan bisa terbuka, maka proses belajar akan jadi lebih baik. Namun tetap, saya menerapkan batas – batas tertentu, apalagi dalam etika orang timur. Jika sudah melewati batas, maka siswa akan mendapat teguran tegas.
  • Rapport: Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa milenial ini bersifat relasional. Milenial mungkin bukan ornag yang banyak teman dekat, tetapi sekalinya dekat mereka bisa sangat loyal. Saya pernah mencoba ini, misalnya dengan mengingat nama, menanyakan kabar, atau mendengarkan siswa curhat. Hasilnya, mereka cenderung untuk respek, terbuka, dan berminat belajar tinggi jika memiliki kedekatan personal dengan gurunya. Pernah suatu ketika ada guru senior yang bahkan meminta CV anak didiknya, menghapalkannya, dan menjadikannya bahan untuk membangun kualitas relasi antara guru dengan siswa. Hasilnya menurut saya sangat bagus dan kualitas pembelajaran pun jauh lebih meningkat.

Hal ini pernah dibahas juga dalam forum guru. Sejauh manakah guru boleh dekat dengan siswanya? Berhubung ini masalah etika, silakan disesuaikan dengan adat masing – masing. Kalau di UI, salah satunya semua aktivitas konseling harus dilakukan di kampus dan di ruang terbuka. Di tempat lain, mungkin akan beda lagi.

Manakah hal paling sulit yang saya alami? Paling sulit itu membangun rapport. Banyaknya siswa membuat saya kesulitan mengingat nama, dan juga membangun kedekatan emosional dengan mereka.

Namun intinya, mengapa saya menuliskan ini? Semata – mata kita kembalikan ke tujuan awal. Apa sih tujuan kita sebagai guru dalam memberikan mata pelajaran? Tentu agar peserta didik kita mencapai learning outcome yang diharapkan. Sudah cukup sampai di sana, titik. Kebetulan, karakteristik generasinya cukup berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan, ceramah konvensional sudah sangat tidak efektif dan cara 5R di atas adalah cara yang dianjurkan untuk membantu peserta didik mencapai target belajar mereka.

Menyesuaikan dengan kondisi milenial juga bukan berarti selalu guru yang menyesuaikan, namun siswanya juga. Tulisan ini saya tulis semata – mata karena banyak guru yang mengeluh, “kok generasi sekarang begini sih?” namun guru tersebut tidak melakukan perubahan apapun. Materi yang diajarkan, tugas yang diberikan, dan cara mengajarnya itu – itu saja, padahal dunia sudah berubah. Siswa terus disalahkan, padahal memang pola pendidikan sudah berbeda. Kalau mau dicoba berubah sedikit, saya merasakan banyak siswa yang menjadi respek karena sebagai guru kita mencoba memahami mereka.

Buat siswa milenial, Anda pun juga harus tahu diri. Tidak sedikit dari guru Anda yang mencoba menyesuaikan dengan gaya Anda. Namun, Anda juga harus respek dengan mereka. Buat saya, attitude jauh lebih penting daripada ilmu yang Anda miliki. Banyak ilmu tapi tidak memiliki attitude, ya di manapun Anda berada akan sulit diterima. Namun, jauh lebih baik jika Anda sama – sama memiliki ilmu dan attitiude di atas rata – rata.

Semoga dengan ini akan tercipta sinergi untuk membuat pendidikan Indonesia menjadi lebih baik lagi.

 

Referensi:

Arry Rahmawan – Dosen dan Peneliti Universitas Indonesia

Price, C. (2009). Why Don’t My Students Think I’m Groovy? The Teaching Professor, 23 (1), 7.

Price, C. Five Strategies to Engage Today’s Students. Magna Online Seminar. 1 Nov. 2011.