Tantangan generasi muda saat ini bisa dikatakan kian kompleks. Kerena kemudahan akses informasi ditopang dunia maya dan media sosial ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi bisa menumbuhkan iklim kreatif dan semakin luasnya pengetahuan, tapi di sisi lain, berpotensi menyebabkan dekadensi ahlak religius.

Untuk mengantisipasi hal disebut terakhir, peran orangtua dan guru sebagai pengawas dan pengarah agar generasi muda menggunakan informasi dunia maya sebagaimana mestinya saja belum cukup. Lebih dibutuhkan revitalisasi elemen-elemen pendidikan mampu menangkal dan menyaring pengaruh buruk berpotensi masuk ke dalam diri generasi muda.

Penguatan Pendidikan Karakter

Menurut John W. Santrock “Pendidikan karakter merupakan pendekatan langsung untuk pendidikan moral dengan memberi pelajaran kepada peserta didik tentang pengetahuan moral dasar untuk mencegah mereka melakukan perilaku tidak bermoral atau membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain.”

Dalam konteks era digital tentu pendidikan karakter sangat penting. Mengingat, dunia maya adalah belantara informasi positif dan negatif, di mana konten-konten informasi positif dan negatif bercampur jadi satu. Hanya fondasi ahlak kuat di dalam diri, dalam arti bisa membedakan mana baik dan buruk ahlak baik bisa menjamin dimasa depan generasi muda tetep cerah

Revitalisasi Pengetahuan Humaniora

Pengetahuan berhubungan dengan budaya, kemanusiaan, dan nilai-nilai luhur akhlak ini bisa dianggap kalah pamor di kalangan generasi muda bangsa. Banyak lebih menyukai pengetahuan eksakta dan teknis bisa mengarahkan mereka ke hal-hal praktis serta menghasilkan kemampuan untuk bekerja. Tetapi, jika generasi muda mengabaikan pengetahuan budaya, kemanusiaan, dan religi, mereka mudah terpengaruh budaya luar.

Seperti kata BJ. Habibie, dikutip Republika.co.id (08/08/2016), Tiga hal penting dalam pendidikan, yaitu nilai-nilai luhur akhlak, budaya dan ilmu pengetahuan disertai pengamalan teknologi. Ketiganya harus berjalan sinergis, jika satu saja tidak menjadi timpang, potensi tergerusnya rasa cinta terhadap budaya bangsa dan hilangnya empati sosial dapat kian membesar.

Optimalisasi Teknologi

Kemajuan sebuah bangsa sering diukur dengan seberapa canggih bangsa tersebut, baik itu dalam mengadopsi maupun mencipta sebuah teknologi. Dalam hal ini sebut saja Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok merupakan bangsa-bangsa penemu teknologi canggih. Seakan-akan mencipta sesuatu hal baru atau inovasi sudah mendarah daging di dalam diri masyarakatnya.

Karena itu, agar generasi muda di negeri ini bisa bersaing dan berkontribusi besar di kancah internasional, sudah semestinya pengetahuan teknologi terkait perkembangan teknologi terkini menjadi kurikulum tersendiri di sekolah. Tujuannya, untuk membangun generasi muda mampu menguasai teknologi IT, berjiwa invention dan inovatif. (kumparan.com)